Perjuangan bidan Debora
Harmi Budhi W,memang layak mendapat apresiasi. Tak salah jika akhirnya dia
meraih Srikandi Award 2010 untuk kategori Millenium Develpoment Goals 4(
menurunkan angka kematian anak).

Sebagai bidan yang bertugas di kawasan padat
penduduk di  Kota Semarang, tepatnya Desa Gasem Sari Kelurahan Kel
Tlogomulyo Kecamatan Pedurungan Kota
Semarang ia banyak menemui kendala. Apalagi, kampung tempatnya
bertugas, merupakan kawasan yang dihuni banyak mantan preman dan PSK yang hidup kurang sehingga anak anak mereka tidak dapat gizi yang baik

ini tulisan dan foto-foto ku yang pernah dimuat di Majalah Kartini

 

***

 

Tak sulit untuk menemukan tempat tinggal Debora Harmi. Begitu memasuki kawasan perumahan Graha Mukti Utama banyak warga dengan mudahnya akan menunjukkan alamat rumah bidan tersebut.
Debora Harni tinggal di Jalan Selomukti F/262 Semarang, kawasan yang berdekatan
perumahan padat penduduk di ujung timur kota Semarang.
Perempuan kelahiran Pati, 30 Oktober 1968 ini mulai menempati rumahnya di Semarang sejak tahun 1998. Saat yang sama dia kuliah mengambil studi lanjutan kebidanan dan bekerja di RS Panti
Wiloso Semarang.
Selama dia tinggal di perumahan tersebut, dari tahun 1998 sampai tahun 2000, Debora melihat banyak
keadaan yang memprihatinkan. Kawasan yang jauh dari banyak sarana, baik sarana kesehatan, transportasi, ekonomi dan lain-lain. Kawasan perumahan warga hanya dipenuhi lahan-lahan kosong. Jika warga ingin menuju pusat kota, harus menunggu transportasi dalam waktu lama. Salah satu dampaknya sudah  terbayangkan betapa sulitnya warga jika ingin mendapatkan akses kesehatan.
Mulai Praktek   
Sekitar tahun 2000, banyak warga yang datang ke Debora dan meminta Debora membantu kesulitan warga mendapatkan akses kesehatan. Warga meminta Debora untuk membuka praktek di
rumahnya. Hal ini akan memudahkan warga yang ingin berobat atau konsultasi.
“Saya tidak siap buka praktik di rumah. Karena rumah ini tidak saya design untuk klikik,” tutur Debora. Namun desakan warga akhirnya meluluhkan hatinya. Debora mengorbankan dan menyulap kamar pribadinya menjadi klinik. Bukan hanya komitmen untuk menerima pasien di rumah dengan membuka
praktik ini Debora juga harus berkomitmen mengatur waktunya. Antara tugas di RS Panti Wiloso yang kadang-kadang tetap mendapatkan jam kerja malam hari dan waktu menerima pasien di rumahnya. Juga kesibukannya kuliah di rumah sakit yang
sama.
Sesaat setelah klinik pribadi dibuka di rumahnya, banyak warga yang datang ketempatnya. “ Awal pratik minimal ada permintaan KB dan suntik. Lama-lama warga meminta saya membuka persalinan. Dari
mulut  ke mulut akhirnya banyak warga yang datang,” kata perempuan yang memiliki senyum ramah ini.
Selama buka praktik, jangan dibayangkan Debora akan mengeruk dan mendapat  banyak keuntungan. Kedatangan warga ketempatnya bukan hanya karena dekat dengan rumah warga namun juga karena persoalan biaya.
Warga yang tinggal di Desa Gasem Sari Kelurahan Tlogomulyo Kecamatan Pedurungan Semarang ini rata-rata berprofesi sebagai buruh dan pembantu rumah tangga bahkan sebagian merupakan
mantan preman dan Pekerja Seks Komersial (PSK).
Mereka adalah korban gusuran dari program pembangunan Pemerintah Kota Semarang pada tahun 1997.Sebelumnya mereka menempati kawasan pusat Kota Semarang seperti Simpang Lima, Kampungkali dan Seroja. Kawasan-kawasan ini sekarang sudah berubah menjadi pusat pertokoan,
hotel dan perkantoran.
Dekat Dengan Warga
Kondisi ini membuat Debora trenyuh. Ia menerima siapa saja yang datang ke kliniknya. Berbagai macam karakter warga ia terima dengan ikhlas. Karena sudah bisa ditebak,kesulitan dan keluhan mereka. Sebagai warga yang tinggal di daerah “berisiko tinggi” persoalan kekurangan ekonomi tentu menjadi
persoalan dasar mereka. Tak heran jika akhirnya klinik praktek Debora menjadi klinik sosial.
Debora kadang tak memasang biaya pengobatan. Karena pasien yang datang berobat, beragam latar belakang dan kemampuannya. Ada pasien yang berobat dan membayar sesukanya. Atau mencicil
bayaran bahkan tidak membayar.
“Juga ada yang ingin membayar dengan fisiknya, ia ingin menjadi pembantu di rumah saya tanpa dibayar untuk melunasi biaya berobatnya, biaya bersalinnya,” kata Debora lagi. Debora menerima semua itu dengan ihklas dan terbuka.
Temukan Gizi Buruk.
Setahun berlalu, kesibukan di kliniknya makin bertambah. Dia juga masih disibukkan dengan mengurus tiga anaknya,  Priscila Indah Hapsari (15), Calvin Brianardi (14) dan anak ketiganya
Theofilus Dimas Ardiyanto ( 9). Selama ini Debora mengurus tiga anaknya sendiri karena sang suami Ir Supriyanto Budi Wibowo (42) bekerja di Kalimantan.
Kesibukan dan kendala
membagi waktu inilah membuat Debora mengambil keputusan berhenti bekerja dari RS Panti Wiloso Semarang pada tahun 2001.
Ia memiliki lebih banyak waktu untuk anak-anak dan kliniknya. Ditengah praktiknya Debora terkejut
menemukan keadaan memprihatinkan dari balita-balita yang dulu lahir di tempatnya.

“Anak yang lahir ditempat saya, sewaktu lahir sehat berat badan cukup, tapi setelah 1-2 tahun beratnya badannya tidak bertambah malah dibawah standar. Saya merasa ini bukan kesalahan klinik
dalam menangani tapi akar persoalan dari keluarga,” tuturnya.

Tak sabar mencari jawaban, Debora menyempatkan diri berjalan-jalan di lingkungan sekitar. Setelah mendapati beberapa balita yang lahir di kliniknya namun mengalami gangguan gizi buruk.  Ia bertanya pada banyak pihak. Dan melihat langsung kondisi warga sekitar. Debora mendapati lingkungan
yang juah dari standar kesehatan.
Suyuti Ketua RT 1/III Desa Gasem Sari Tlogomulyo Pedurungan Semarang, menuturkan jika wilayahnya adalah wilayah padat penduduk.  Dalam 1 RT terdapat 80 Kepala Keluarga (KK) dengan 154 balita. “Kondisi ini masih diperparah dengan keadaan tempat tinggal warga. Banyak warga yang menempati
rumah berjubal-jubal. Satu rumah sempit, type 21 ditempati 3-4 KK,” kata Suyuti.
Jika akhirnya banyak bermunculan balita-balita gizi buruk, Suyuti mengakui hal ini karena persoalan minimnya ekonomi dan pendidikan warganya. Banyak keluarga muda yang tidak memahami
persoalan gizi anak disamping juga kesulitan ekonomi untuk memenuhi gizi
anaknya.
Suyuti sangat mendukung upaya bidan Debora dalam menyelamatkan situasi buruk di daerahnya. Bidan Debora aktif menjemput warga dan memberikan penyuluhan. Tak hanya itu, Debora juga
membuka rumahnya menjadi sarana belajar ibu-ibu yang ingin mengetahui bagaimana
merawat balita dan membuat gizi yang baik untuk anak-anaknya.
“Bukan hanya memberi penyuluhan, Bu Debora juga sering memberikan makanan tambahan untuk anak saya dan menimbang berat badan anak saya,” kata Indriyani salah satu warga yang
aktif mengikuti penyuluhan bidan Debora.
Penyuluhan pribadi diberikan Debora untuk ibu-ibu balita yang aktif datang ke rumahnya. Debora sempat
kawatir, jika program ini hanya bermanfaat jangka pendek. Menolong balita gizi buruh dengan pemberian makanan tambahan, tapi tidak memecahkan persoalan utamanya, kekurangan ekonomi dari keluarga balita. Apalagi program pemerintah pemberian makanan tambahan melalui posyandu, 1 bulan sekali tak mungkin dapat mengejar pemenuhan gizi balita.
Bersamaan dengan kekawatiran ini, Debora mendapatkan angin segar pada tahun 2009. Ia mendapatkan  informasi dari teman-teman bidan tentang program Pos Bhakti Bidan yang digagas Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Sari Husada. Debora mengajukan proposal dan fokus pada program MDG 4 menurunkan angka kematian anak.  PT  Sari Husada dan Ikatan Bidan Indonesia membuka peluang ini untuk para bidan menjalankan tugas sosial kepada masyarakat. “Saya  membuat proposal, balita yang mengalami gizi buruk  ada 11 balita. Mereka sangat parah,  dibawah garis merah 2 tahun bertanya masih 9 koma,” tuturnya. Debora menganggap program ini cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannya membantu masyarakat sekitar.
Proposalnya bersaing dengan 500 propsal, diperamping dengan 200, dan akhirnya lolos dengan 9 proposal lainnya. Program yang diajukan Debora adalah menggerakkan masyarakat untuk membuat tempe. “Saya amati disini banyak warung, dekat pasar dan masyarakat senang mengkonsumsi tempe. Jadi saya pikir dengan membuat tempe, bisa menjadi pemasukan keluarga. Kalaupun tempenya tidak
habis kan bisa dimakan sendiri untuk kebutuhan gizi anak dan keluarga,” kata Debora menjelaskan.
Debora menjalankan program dengan membuat tempe dan fokusnya pada keluarga yang memiliki balita gizi buruk. Ada 11 keluarga yang menjadi fokus programnya. Dengan modal yang diberikan penyelenggara program, Debora mulai menggerakan masyarakat membuat tempe.
Dimulai dengan melibatkan mantan pasiennya, yang pernah bercerita jika dia ahli dalam membuat tempe. Mantan pasiennya tersebut dilibatkan sebagai pelatih untuk para ibu balita.
Program ini berjalan selama 6 bulan. Para ibu sudah merasakan manfaatnya. Diantaranya bayinya sudah mulai meningkat berat badannya karena gizinya juga meningkat. Tempe yang diproduksi
mulai dipasarkan dan dikonsumsi sendiri.
“Saya masih membuat untuk konsumsi sendiri, kalau buat sendiri kan tahu bersih dan sehatnya bahan-bahan tempenya,” kata Indriyani salah satu peserta program “Tempe Penyambung Kehidupan”.
Dari program ini, ketekunan dan keihklasan Debora mencerahkan kehidupan masyarakat Desa Gasem Sari Tlogomulyo Pedurungan Semarang, mengantarkan bidan yang penuh pengabdian ini
meraih Srikandi Awards 2010.
“Penghargaan bukan target utama saya, yang utama adalah masyarakat mandiri dan terbebas dari kesulitan ekonomi dan kesehatan,” tuturnya. Selanjutnya Debora masih memiliki program lain membantu ibu-ibu balita di Desanya dengan program penyuluhan pentingnya
pemberian ASI yang sehat kepada balita. (Liputan ini pernah dimuat di Majalah KARTINI)

 

 

Categorized in:

Berita,