Apakah pelaku kejahatan seperti perampok atau pembunuh itu keadaannya baik-baik saja setelah melakukan aksi kejahatan?

***

Ini adalah kisah ST, perampok perempuan yang tergabung dalam komplotan perampok mobil rental dengan target operasi jalur selatan Jawa Tengah sekitar tahun 2010

Perampok perempuan berbadan mungil ini bahkan sudah tidak ingat lagi berapa jumlah korban yang telah ia habisi nyawanya.

Para korban memang sudah di alam baka. Tentu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi mereka (para arwah korban) mungkin punya cara tersendiri untuk balas dendam. Nyawa tak berdosa dihilangkan begitu saja pasti mereka tidak terima.

Bisa jadi dengan kompak para arwah korban bekerja sama untuk balas dendam dengan terus menerus meneror ST. Sengeri-ngerinya teror. Kalau bisa sampai membuat ST nyaris gila dalam ketakutan.

Dan benar saja, ST mengaku selalu tercekam rasa takut, gelisah dan tertekan. Seperti tidak ada ruang tenang dipikirannya. ST selalu dihantui arwah para korban. “Seperti berputar-putar mencengkram pikiranku setiap hari,” kata ST. Tak hanya dihantui ketat ‘kedatangan para korban’ ST juga dihantui berat tali sepatu dan kawat.

Dalam sepak terjangnya selama tiga tahun bergabung dengan komplotan perampok khusus rental mobil, ST selalu menggunakan tali sepatu dan kawat untuk menghabisi nyawa korban.

“Tidak ada darah yang menetes. Caraku membunuh dengan mencekik leher korban sampai tewas pakai tali sepatu. Kami cekik dari belakang, sampai habis nafas lalu setelah tewas mayat korban kami buang ke jurang,” ungkap ST.

Dua benda yang ia gunakan untuk mencabut nyawa-nyawa tak berdaya itu juga berakhir menjadi benda yang paling mengganggu kejiwaannya.

Keresahan lain, ST mengaku tidak berani tidur di ruangan gelap. “Sudah sulit tidur apalagi ruangan gelap.”

Siksaan batin berikutnya, ST pun tak lepas dari rasa bersalah yang besar setiap melihat remaja perempuan di depan mata.

Dalam rangkaian aksinya, modus yang dijalankan ST adalah berpura-pura sebagai satu keluarga lengkap yang hendak pergi ke suatu acara atau tempat tertentu dengan menyewa mobil rental.

ST akan berperan sebagai istri yang lugu, rekan rampoknya jadi suami yang polos dan satu lagi sebagai pelengkap seorang remaja putri mereka libatkan dengan peran sebagai anak mereka.

“Sangat menyesal. Anak yang aku ajak merampok sampai kena gangguan jiwa karena tidak bisa nerima keadaan kalau dia ikut jadi pembunuh,” ujar ST.

Perempuan berambut cepak dengan paras yang sebenarnya agak manis ini mengaku jiwa sadis dalam dirinya terbentuk oleh persoalan kejiwaan sejak kecil.

ST mengungkap dirinya berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Orang tuanya ‘minim’ perhatian dan kasih sayang.

“Orang tuaku cuek, sibuk dengan dunianya sendiri. Tak pernah memperlakukan aku dengan baik. Entah karena mereka tidak tahu atau tidak ingin,” keluhnya.

“Sampai untuk membuat Ibu melihat keberadaanku, aku harus berulah sangat nakal. Dari ulah nakal lama-lama jadi kriminal,” ujarnya menyesal.

Keadaan tanpa perhatian itu membentuk ST tumbuh makin liar. Lengkap sudah format anak problematik pada diri ST, nakal tanpa arah dan tanpa rasa takut. Beragam aksi kriminal kecil-kecilan ia mulai ia lakukan dari mabok miras, hidup di jalanan dan mencuri.

Ditambah lagi perjalanan ke jenjang hidup berikutnya, nasib ST tidak terlalu beruntung, jika diukur dengan standar keberuntungan seperti harapan banyak orang tua pada anaknya.

Rumah tangga ST penuh masalah. “Ekonomi sulit sampai tidak ada uang di dalam rumah. Suami tidak kerja, hutang banyak,” ungkap ST.

Kondisi ini kerap membuat ST seperti terpojok di gang buntu yang sempit. Putus asa, menjadi satu-satunya solusi. Putus seputus-putusnya asa.

ST yang ‘sudah liar’ menjadi sangat mudah tergiring ke perbuatan nekat. Cara nekat satu-satunya dengan mengambil jalan pintas di jalur kriminal. Hanya itu cara termudah untuk mendapatkan uang, begitu pikirnya.

Tanpa ragu ia bergabung dengan perampok. Sebuah geng rampok sedang butuh tim baru.

Dimana-mana kriminal tidak akan sempurna tanpa partner. Dan ini peluang besar buatnya. Apalagi sebelumnya, ST sudah punya pengalaman berbuat kriminal kecil-kecilan saat masih remaja dulu.

“Ada tetangga nawari kerja. Kerjanya begini-begini, bayarannya segini. Setelah mikir-mikir, sepertinya aku bisa menjalankan tugas itu. Dan yang utama juga penting ya itu, bayarannya besar. Harus aku ambil kontrak ini. Kapan lagi bisa dapat uang besar gitu,” ungkap ST.

ST sadar tugasnya tidak mudah dan sangat keji, merampas harta dan membunuh orang untuk keuntungan kelompok dan keuntungan dirinya. Semua demi uang.

Dimana-mana pemicu kriminalitas seputar dua hal ini, kemiskinan parah atau kekayaan yang menggiurkan.

Hal penting lainnya, karena kriminal selalu satu rangkaian dengan kekuatan tanpa nurani dan uang besar namun resiko tinggi maka bos rampok tidak salah memilih ST.

ST sosok yang pemberani, cerdas dan berdarah dingin.

Selama menjalankan aksi, terbukti ST tak pernah gagal. Puluhan tugas menghabisi nyawa korban dan merampas mobil selalu berhasil.

Suksesnya aksi kriminal acap kali berkat kombinasi modal darah dingin dan kecerdasan.

ST mungkin agak tenang karena dia tidak merasa sendirian.

Sepertinya semua pelaku kriminal menggunakan modal itu, tentu saja termasuk koruptor-koruptor.

Namun untungnya cerita hidup ST berubah arah. Sebengis-bengisnya darah dingin dalam tubuhnya, masih ada setetes darah baik yang menggerakan relung hati ST untuk tobat.

Sudah lama ia ingin berubah dan berhenti dari dunia hitam itu.

“Biasanya semua korban aku bunuh. Waktu itu entah mengapa, rasanya aku tidak tega membunuh calon korban,” ujar ST tentang pengalaman kriminal terakhirnya.

Jadilah, saat itu ia hanya membawa korbannya jalan-jalan saja. Sampai pada situasi yang tepat, ST dan rekannya meminta sopir berhenti.

“Aku ungkap jujur kalau kami perampok. Makanya lebih baik kamu turun dari mobil, tinggalkan mobil serahkan pada kami dan kamu akan selamat!” kata ST mengulangi ancamannya saat itu.

Tidak pakai mikir dua kali, sopir yang tidak jadi naas itu langsung menuruti perintah ST. Dia turun sambil terus mengucapkan terima kasih kepada komplotan ST.

Tak hanya itu ST yang sedang baik hati, kembali berbuat yang tidak biasa. Dia mengejar sopir dan memberinya uang transport. “Ini uang buat naik bis sampai rumah kamu.”

Ditengah rasa takut dan lega, sopir menerima uang transport yang diberikan ST kemudian segera berlari kencang.

Bebasnya sopir rental saat itu pasti mendatangkan resiko besar untuk ST dan rekannya.

Sopir itu karena takut dianggap bersekongkol dengan perampok, akhirnya lapor bos dan polisi.

Hal itu menjadi awal mula terbongkarnya aksi ST dan komplotan perampok mobil rental tersebut.

“Aku sudah tahu resikonya. Semua ini memang sengaja dan sudah aku hitung.”

“Sekarang atau nanti tetap saja kami akan tertangkap. Jadi ya memang harus melakukan tindakan ini untuk mengakhiri kebejatan kami.”

Perwujudan pertobatan ST berikutnya makin tampak jelas selama berada di lembaga permasyarakatan. “ST aktif di kegiatan agama dan banyak ibadah.”

Dia juga sukses besar dalam mengubah dirinya menjadi pribadi yang baru. “ST sangat baik dalam mengontrol emosi sekarang,” ujar rekan ST di lapas.

Apapun alasannya, pembunuhan adalah kengerian yang harus dihukum setimpal.

Tanpa dihukum berat, membunuh orang akan dilakukan tanpa beban untuk bersenang-senang dengan uang haram besar hasil kejahatan.

Itu akan menjadi pemicu terus lahirnya penjahat-penjahat serakah dan tidak lagi berakal manusia.

***

Tulisan pernah dimuat di media cetak di Semarang

Semarang, Juni 2015

Shinta Ardhan

Categorized in:

Feature,