Dia memakai topeng. Aku dikasih uang dan es krim. Orang itu berhenti
disebelahku. Aku tidak mau menerima uang dan esnya. Setelah itu orang itu
menyuruhku masuk ke mobil tapi aku tak mau. Aku lari. Aku dipegang oleh orang
itu. Aku gigit tangan orang itu. Sampai dia bilang aduh aduh.
***
Cerita ini mengalir dari Nanda Puteri Kusuma, bocah 9 tahun yang baru saja
lolos dari penculikan. Peristiwa naas itu terjadi pada siang hari, saat Nanda
berjalan-jalan di lapangan di samping sekolahannya, SDN Bedono Jambu Kabupaten
Semarang. “ Saya dinakali teman saya, jadi saya tidak bisa masuk kelas. Makanya
saya jalan-jalan aja ke lapangan,” kata Nanda membuka percakapan dengan saya.

Nanda tak menyadari jika kepergiannya seorang diri di lapangan samping
sekolahnya mengundang perhatian dari beberapa laki-laki yang mengendarai sebuah
mobil. Mereka terus mengintai Nanda. Seorang laki-laki akhirnya turun mendekati
Nanda. “Orang itu nanya sama saya, mau kemana dik? Mau ikut om? Itu di mobil sudah ada temanmu,” kata Nanda menirukan rayuan laki-laki yang ternyata komplotan penculik itu. Nanda menolak tawaran orang itu. Pelaku tak habis akal. Dia kembali menawari Nanda es krim dan uang Rp 100.ribu. Nanda tetap menggeleng. “Akhirnya orang itu memaksa saya dan menyeret saya ke mobil. Saya takut
melihat bapak-bapak bertopeng dan membawa suntikan di dalam mobil,” jelas Nanda
terbata-bata. “Di dalam mobil juga ada anak perempuan, lagi nangis. Mulutnya diplester,” lanjutnya.

Dalam keadaan darurat ini tiba-tiba muncul ide dari Nanda. Dia mengaku mendapat
ide ini spontan. “Saya gigit tangan bapak itu. Saya gigit terus sampai dia bilang aduh-aduh. Akhirnya dia melepaskan saya dan saya lari kembali ke sekolah sambil nangis,” terangnya.

Keberanian Nanda ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak lain. Agar selalu berani dan jangan mudah dirayu oleh orang yang baru dikenal. Juga untuk menyadarkan kepada orang tua,agar makin waspada. Penculikan saat ini makin menggila.

Lokasi penculikan Nanda ini saja diluar dugaan. “Kami kan sekolahan di pedesaan. Jadi kami tidak pernah berpikir kalau di sini ini bisa terjadi penculikan,” kata Huri Santoso, sang kepala sekolah.

Jika akhirnya Nanda selamat, seolah bagian dari kemujuran perempuan kecil pemberani tersebut. Pada saat kejadian, Nanda berhasil lolos tanpa bantuan siapapun. “ Saya bisa lepas setelah mengigit tangan bapak itu sampai cuwil-cuwil. Saya tidak ditolong oleh siapa-siapa” tutur Nanda.

Pada saat kejadian kebetulan penjaga sekolah sedang keluar. Ruang petugas keamanan kelurahan juga kosong karena sedang rapat semua. “ Tukang ojek yang biasa mangkal didekat lapangan tempat kejadian juga masih sepi. Karena kejadian pagi hari,” tutur Haryanto, penjaga sekolah Nanda. Ada satu penjual bakso yang melihat aksi penculik menarik-narik tangan Nanda tapi ia tak dapat banyak membantu Nanda. “ Penjual bakso orangnya agak gagap dan sulit bicara. Nanda bisa lolos sendiri” terang Haryanto lagi

Selain memiliki sifat berani, Nanda juga anak yang tegar. Meski masih umur 9 tahun Nanda sudah bertanggung jawab pada dua adiknya. Sejak orang tuanya bercerai,ibu Nanda membesarkan sendiri anak-anaknya.

Dwi Sulistya, ibu Nanda menuturkan keberadaannya sebagai single parent menuntut ia bekerja keras dan kurang memiliki banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak.” Saya kerja dari pagi sampai malam. Saya keliling menjual baju kredit ke desa-desa,” kata Dwi. Selain Nanda ia masih memiliki dua anak lain, Andi (5) dan Hendro (3). “ Kalau dirumah yang merawat anak-anak ya Nanda itu. Dia tiap pagi memandikan adik-adiknya, nyuapi makan dan nyuci,” tambah Dwi. Dia benar-benar tak habis-habisnya bersyukur saat mengetahui Nanda bisa kembali lagi dan selamat dari penculikan.

Kata Dwi, setelah selamat dari penculikan ada perubahan pada diri Nanda. “ Kalau malam tidurnya gak tenang. Kayak bocah trauma, ia suka ngelindur dan teriak-terika minta tolong. Saya terus mendampingi dia.” Tutur Dwi menceritakan trauma Nanda.

Percobaan penculikan terhadap Nanda ini merupakan kasus pertama yang terjadi dikawasan Jambu Kabupaten Semarang. Apakah ini modus lain dari pelaku? Yang mulai bergeser mencari korban ke kawasan pedesaan dan pinggiran? “kami sedang mengembangkan penyelidikan kasus ini. Keterangan saksi-saksi sudah kami kumpulkan. Namum kami belum dapat mengidentifikasi pelakunya,” jelas Kapolres Semarang AKBP Drs Edi Swasono. (Shinta Ardhan/KBR68H Jakarta)




Categorized in:

Berita,