“Kalaupun nanti
saya keluar dari sini, saya dianggap sampah, tidak apa-apa! Yang penting
sekarang saya bisa solat, bisa wudhu, bisa baca Alquran. Dulu…sebelum masuk sini saya tidak bisa solat sama sekali. 18 tahun saya tidak mengenal Allah Swt…”
Ini adalah pernyataan Sabar, salah satu napi kasus
pencurian yang kini tengah menghabiskan hari-harinya dibalik jeruji besi lapas
Beteng Ambarawa. 
***
 Malam itu, malam ke 14 Ramadan. Aku datang ke lapas
Ambarawa bersama sejumlah teman jurnalis untuk meliput aktifitas napi selama
Ramadan di pesantren lapas, yang diberi nama‘Darut Taibin’ atau rumah taubat.
Bacaan ayat suci Alquran malam itu terdengar memenuhi area
 Lapas. Pihak lapas sengaja memasang
pengeras suara disejumlah titik agar lantunan ayat suci Alquran ini bisa
menjangkau ke semua ruangan napi dan tahanan. 
Dari pengeras suara itu, aku dengar suara Sabar, tengah
khusuk tadarus…
Sabar, napi kasus pencurian truk yang mengaku belasan
tahun tidak mengenal agama ini, sekarang menjadi pria sholeh yang fasih membaca
Alquran. Selama bulan Ramadan, dia menjadi pembaca Alquran paling aktfif di
pesantren. “ Dulu gak bisa ngaji.  Gak sempat belajar, kerja sama kerja saja
isinya. Disni mau ngaji karena kesadaran sendiri. Masuk sini disuruh ngaji,
suruh tobat. Merasa ada pesan Tuhan,” kata Sabar bijak. 
Sabar
merasa beruntung ditempatkan di lapas Beteng Ambarawa. Karena dari sekian lapas
di Jawa Tengah, baru lapas Ambarawa yang menerapkan sistem kurikulum pesantren.
 
Waktu pertama masuk sini, saya lihat kok ada masjid, ada pengajian. Saya mulai belajar
dari iqro,  juz ama. Di kamar sudah katam
3 kali,” tambahnya.
Tentu
jawabanya membuatku terkesima. Bagaimana bisa, orang yang tak mengenal agama
sama sekali. Baru mempelajari Alquran saat usia sudah 35 tahun…tapi dengan
mudah paham Alquran bahkan katam beberapa kali. Hidayah? Apakah dia mendapat
hidayah? 
“Kok bisa cepat sekali khatam?” tanyaku
singkat. 
“Kan disini sudah 4 bulan lebih. Katam
sendiri. Sudah 3 kali katam. Saya mengaji tiap pagi habis Subuh dan sore.  Pagi separo sore separo Juz. Lama-lama khatam
sendiri,” jelas Sabar. 
Bagi
Sabar, mempelajari Alquran adalah tahap terakhir  dari langkahnya mengenal ilmu agama. Setelah
bergabung di pesantren, Sabar mulai total dari nol. Dari cara berwudhu, gerakan
solat yang benar, bacaan utama solat selanjutnya baru tahap belajar Alquran. 
Proses
belajarnya tergolong cepat. 
“Hanya dalam waktu satu bulan saya sudah
mampu baca Alquran
,” ungkap Sabar
senang. 

 Sekali
bisa baca Alquran, semangatnya begitu memuncak untuk terus membaca kalam ilahi
itu. 
Apa
yang diraih Sabar tentu menjadi motivasi bagi napi lainnya. Bahwa tidak ada
kata terlambat untuk mempelajari agama, selama ada kemauan yang keras. 
Yanto,
seorang napi tunanetra yang juga menjadi santri di pesantren Lapas Ambarawa
mengaku keberadaannya di lapas, menjadikannya lebih fokus. “Kalau diluar isinya kerja dan kerja. Tapi kalau disini bisa fokus,”ungkapnya. 
Sedikitnya ada 250 napi dan tahanan yang
menempati lapas kuno yang berusia lebih dari 1,5 abad ini.  Keterbatasan kondisi lapas tak menghalangi
mereka untuk istiqomah dalam meraih bekal kebaikan. 
Pengajar
Para
pengajar di pesantren lapas ini, terdiri dari berbagai kalangan. Ustad resmi
dari lapas, ustad dari kalangan napi yang paham agama hingga kalangan ustad
dari luar. Dan menariknya, semua pengajar di lapas  ini tanpa sepeserpun bayaran. 
Salah satu Ustadz yang diambil dari kalangan napi,
Ahmad Nurohim, menyebutkan sistem pendidikan yang keras menjadi salah satu
kunci kemudahan santri napi meraih kemajuan dalam memahami pelajaran agama.
Ada sanki-sanki tegas yang siap dijatuhkan kepada napi
jika mereka malas-malasan belajar agama dan beribadah di pesantren. 
 Gak solat, hukuman ada.
Lari, dijemur..awalnya kan tetap seakan tidak terbiasa dengan makanan rohani,
ditekan dulu, lama-lama jiwa itu biasa. Manusia biasa umbar hawa nafsu. Maunya begini
begitu, nah kalau lama-lama ditekan kan terbiasa dikendalikan
,”jelas Ahmad. 
Metode lain
juga dikerahkan untuk menarik minat napi. 
Ustadz
Muhsin pengasuh resmi Pesantren Darut Taibin ini memilih untuk menerapkan
sistem dzikir dan hiburan.
“ Wajar namanya juga orang gak pernah
kenal Allah, perlu proses sangat lama. Kami perbanyak dzikir, supaya hati gak
gundah gulana .Kalau isi pengajian, nanti masuk kanan kiri. Tidak mengena. Makanya
lebih banyak dzikir,” kata Ustad yang jago membuat disain kaos ini. 
Selain itu
ada cara yang asyik. 
“ Biasa kalau Senin, saya bawa
doorprize hadiah,ada kaos,macem-macem,”jelasnya lagi. 
Sertifikat Santri Napi
Kepala Lapas Beteng Ambarawa Dwi Agus Setiabudi
mengaku bangga memimpin lapas yang berbasis pesantren. Sesuai namanya,
Pesantren Darut Taibin atau rumah untuk orang bertaubat, lapas benar-benar
menyiapkan orang yang ingin kembali ke masyarakat dengan banyak bekal kebaikan. 
 “Dengan adanya peresmian pesantren Kakanwil
saya mohon sodara yang diluar, jangan punya 
persepsi lapas sebagai tempat pembalasasan.  Intinya pembekalan  lahiriah. Pendekatan dengan batiniah, dengan
pondok ini memulihkan saudara saya disini,”
ungkap Agus.
“Kalau orang sudah mengenal Allah,
menegakkan solat, paham isi Alquran, tentu semua itu bisa jadi pegangan dia
hidup nantinya
,”
tegas Agus optimis. 
Agus
menegaskan sistem pesantren yang dibangun dilapas ini tentu membuahkan hasil
yang berbeda jika dibanding sistem majelis. Di pesantren ada
penekanan-penekanan khusus, sedangkan di majelis hanya arahan-arahan. 
Sehingga
tujuan utama menyiapkan warga binaan kembali ke masyarakat dengan beberapa bekal
seperti pembekalan mental, ketrampilan dan pengetahuan agama yang cukup dapat
tercapai melalui metode pesantren lapas ini. 
Bagi santri
yang memenuhi syarat, mereka akan bebas dengan membawa sertifikat kelulusan
dari pesantren lapas. “Sertifikat diberikan kepada mereka yang sudah benar cara
solatnya, benar baca Alqurannya, minimal hafal surat-surat pendek,”tambah Agus. 
Seperti
tekad kuat yang dituturkan Sabar,jika dia bebas nanti….
“ Intinya nanti dirumah, ngaji tiap hari, kerja gak
melanggar lagi, gak melepas yang 5 waktu,”
tekad Sabar semangat.
Lonceng disamping masjid lapas telah berbunyi. Gemanya memecah kesunyian gedung tua  lapas Beteng Ambarawa Tembok-tembok tua itu seolah bergetar merespon gema lonceng.Getaran itu tentu melebihi saat tembok derita itu merespon kalam ilahi yang gencar dilantunkan para napi. Yang tulus dan ikhlas ingin memperbaiki diri…

Kaki kami melangkah keluar meninggalkan mereka dan meninggalkan gedung tua  yang menyimpan banyak misteri ini…

Ambarawa, 1 Juli 2015

Shinta Ardhan

Categorized in:

Berita,