Banyak orang yang sering tiba-tiba mendapat inspirasi hebat akibat cintanya ditolak. Hal ini dialami Jamal Boy (43) seorang pelawak Semarang yang ngetop berkat perannya sebagai Gus Dur pada program parodi politik di ANTV dan RCTI. Jamal yang sebelum terkenal bernama asli Budi Widodo adalah pria kelahiran Purworejo, 1 Maret 1972. Dia memiliki bakat lucu sejak masih SD dan sudah berani tampil melawak saat SMP. Seperti layaknya ABG seusianya, pada saat duduk di bangku SMP itu Jamal mengaku tertarik pada salah satu cewek teman sekolahnya. Sebut saja namanya Inul.
Berbagai cara Jamal tunjukan untuk merebut simpati cewek tersebut. Dia kerap
menggoda-goda Inul dengan segenap kelucuannya. Tapi sia-sia. Sekeras apapun dan sekuat apapun usaha Jamal merebut hati Inul, cewek itu tetap tidak bergeming.“Saya jengkel banget waktu melucu tapi dia tidak melihat saya babarblas. Tapi malah dari situ saya mendapat inspirasi,”kata Jamal mengenang masa cinta monyetnya.
Akhirnya dia mengajak salah satu temannya, Dino untuk tampil melawak pada malam pentas api unggun di sekolahnya. Jamal dan Dino lalu tampil dengan membawa tema sakit jiwa. Jamal berperan sebagai pasien dan Dino sebagai dokter.
Dino : “Kamu tahu kan kalau disini rumah sakit jiwa. Lha kamu ini sakit apa dek kok dateng
kesini?”
Jamal : “Saya enggak sakit apa-apa Pak. Saya cuman mau sakit gilaa saja Pak,”
Dino : “Wah, ya nggak bisa tho, kamu harus gila duluan baru berobat kesini,”
Jamal :”Enggak pak, pokoknya saya mau sakit gilaa…saya mau sakit gilaa pokoknya,”
Dino : “Ya sudah, ya sudah…daripada kamu nangis disni, ayo saya anter kamu ke ruang
pasien yang lain. Biar kamu belajar gila betulan sama mereka ya,”
Begitulah ringkasan dialog lawak pertama Jamal saat tampil bersama teman SMP-nya. Dialog yang benar-benar natural. “Ya seputar itu saja omongannya. Karena belum tahu melawak itu harus gimana.”
Selepas SD dan SMP, alur hidup Jamal masih satu warna. Akting dan komedi. Pada jenjang SMA kemampuan melucu Jamal makin menjadi. Kemudian ia berusaha total dengan menggeluti seni teater.
Takdir seolah menuntun Jamal untuk terus meningkatkan ‘kelasnya’ di bidang seni
komedi. Pada tahun 1990 selepas SMA, Jamal hijrah ke Semarang melanjutkan kuliah di STIKES HAKLI. Dia mengambil jurusan kesehatan masyarakat. Pada malam inagurasi kampusnya, Jamal kembali tampil sesuai bakat alamnya. Melucu!
Untuk terus mengasah kemampuan melawaknya, disamping terus menerima job, Jamal juga aktif mengikuti berbagai lomba komedi. Pada tahun 1994, Jamal berserta Jamil dan Budi Sentet memakai grup baru, DAKOTA. Kata Jamal arti DAKOTA diharapkan sesuai doa mereka yaitu Dagelan Kokean Tanggapan.
Grup itu akhirnya ikut tanding dalam lomba lawak yang diadakan Radio Suara Semarang. Kekompakan tiga pria lucu ini berbuah sukses meraih juara I. “Habis menang itu kami dikontrak siaran di radio mandu acara komedi.”Tapi harapan belum seindah kenyataan. Setelah memakai DAKOTA, keadaan justru menguji keuletan mereka. “Artinya malah berubah. Sing dikarepke DAGELAN KOKEAN TANGGAPAN eh ini malah jadi DAGELAN KOSONG TANGGAPAN,”ujar Jamal setengah tertawa mengenang masa terpuruknya.
Puncak karier selanjutnya, Jamal kembali ke Jakarta. Dia didapuk memerankan tokoh bangsa, Gus Dur dalam parodi politik bersama Efendi Gozali. Jamal berperan sebagai Gus Pur dalam acara Republik Mimpi di ANTV (2008) kemudian pindah tayang ke RCTI (2009). “Yang sangat membanggakan adalah kami pernah tampil di Istana Wapres Jusuf Kalla. Dan acara itu dihadiri langsung oleh Gus Dur,”terang Jamalbangga. Setelah acara itu ia menemui Gus Dur dan berbincang-bincang. Jamal mengaku lega karena Gus Dur tak mempersoalkan dirinya memparodikan Gus Dur. Peran Jamal sebagi Gus Dur terus berlanjut lewat Republik Mimpi The Movie (2010). Berkah dari tayangan dan film tadi berhasil mengantarkan Jamal pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji. “Alhamdulilah tahun 2010 bisa naik haji,”papar pria yang senang memelihara jenggot ini puas. Terus melucu ya Bah Jamal. (Shinta Ardhan/Jateng Pos)
Profil Komedian Jawa Tengah ini dimuat di harian Jateng Pos 11 februari 2015