Keberadaan penonton bagi semua jenis pertunjukan adalah mutlak. Mereka bisa menjadi energi dan spirit tersendiri bagi penghibur yang sedang tampil. Makin banyak penonton makin bagus, puas dan bangga.

Namun bagi Budi Sentet (54), seorang pelawak senior Semarang yang kerap menjuarai lomba lawak tunggal sejak tahun 1980-an ini, keberadaan penonton tidak menjadi tolok ukur semangatnya dalam tampil optimal. “Seberapapun jumlah penonton jangan mengurangi profesionalitas penghibur.”

Budi mengisahkan kala itu sekitar tahun 1990, dia bersama Teguh Hoki dan rekan lainnya, tampil ngegrup melawak di sebuah night club di Semarang untuk acara pergantian malam tahun baru.

Seperti entertain pada umumnya jika dapat job pasti all out. Kostum disiapkan sebagus mungkin. Materi sudah dihayati sebaik mungkin. Langkah berikutnya adalah naik panggung!

Teguh Hoki: Ayo sekarang sapa dulu penonton.

Budi Sentet: Baiklah, selamat malam Bapak-Bapak, dan Ibu-Ibu.

Teguh Hoki: Ah wes biasa, ganti!

Budi Sentet: Selamat malam adik-adik dan bayi-bayi…

Teguh Hoki: Ora ono cah cilik neng kene, ganti!

Budi Sentet: Baiklah, selamat malam wong edan

Teguh Hoki: Nah iki mayan, tapi jek kurang…

Budi Sentet: Selamaat malam silumaan.. (lanjut Budi kesal)

Sebenarnya itu materi spontan. Tapi siapa sangka jika keadaanya nyaris sama dengan bahan humor mereka. Dihadapan mereka malam itu tidak banyak penonton yang datang. Ruangan night club yang cukup luas itu sepi.

Hanya berisi dua orang penonton saja. Itupun keduanya turis asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali. “Tapi ya lumayan mereka pokoke teko melu ngguyu mesti rak mudeng,” kenang Budi Sentet geli.

Sebagai pelawak, Budi lebih beruntung dari pelawak lainnya yang mengandalkan bakat otodidak. Budi lahir dari keluarga besar pelawak. Ayahnya Ryadi Cipto Hartono adalah pelawak ngetop di Semarang pada era 60-70 an.

“Ya dari kecil sudah diajari melawak sama Bapak saya. Kebetulan saudara-saudara saya juga punya bakat melawak semua,” terang pria kelahiran Semarang 6 November 1961.

Berbekal ‘darah lucu’ dari sang Ayah tadi Budi mengajak saudara-saudaranya membuat grup Cilang-Cileng ikut lomba lawak yang diadakan oleh stasiun Radio Radiks 99 Semarang. Budi yang kala itu masih duduk di bangku SMP berhasil menyabet juara II. Berikut sekilas dialog lucu mereka kala itu…

“Selamat siang anak-anak” sapa Budi.

“Siang guru-guru…” balas saudara-saudaranya.

“Lho kok dijawab to. Gak boleh gitu jawabnya. Sekarang Bapak nanya, 25×4 sama dengan berapa?” lanjut Budi.

“Huuu..guru kok takon tho. Kan guru kudune ngerti kabeh,” ….

Setelah menang langsung lomba itu Budi langsung dikontrak siaran. Setelah kompetisi lawak pertama, Budi Sentet terus menjajal lomba-lomba berikutnya. Bakat humornya yang sangat kuat mengantarkan pria berwajah kalem ini menjadi juara berkali-kali. Diantaranya Juara II Lomba Lawak Apresiasi Humor Mahasiswa Tingkat Nasional (1987), Juara I Lomba Lawak Pemuda se DIY (1989), Juara I Lomba Lawak Hari Jadi Kota Semarang (1993), Juara Umum Lomba Lawak Bergilir Perorangan Sriratu (1998) dan era 2000an Budi kembali jadi juara I Komedi Monolog TVKU dan Lomba Lawak Gerr yang diadakan toko buku ternama.

Pelawak yang kerap berperan sebagai pengumpan ini sering membawakan materi-materi lawakan yang sederhana tapi kuat membuat ledakan tawa penonton.

“Ini piala saya, waktu saya menang lomba sak kecamatan. Waktu itu saya menang juara umum lomba ngeyelan dan juara utama lomba padu karo bojone” ungkap pria alumni IKIP 1982 ini sambil tertawa ringan.

Modal utama Budi dalam membuat materi adalah tabungan kata, modifikasi dan pengalaman diri sendiri yang direkayasa.

Selanjutnya, kepada pelawak generasi baru, Budi berharap jangan sampai mereka kehilangan jati diri. “Kalau memang di daerah jadilah pelawak daerah. Materi daerah dan pembawaan sesuai daerah kita. Hanya kalau pengalaman harus sampai mana-mana,” pesan pelawak yang dulu pernah tampil sampai Jakarta, Lampung dan kota-kota lain di Indonesia. (Shinta Ardhan)

***

Categorized in:

Sosok,