Bagi Ahmed Ibrahim Muazeib, pria asal Aladyar Libya ini, Indonesia memiliki pesona kuat yang menariknya untuk datang kembali. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 Akuntansi di Universitas Diponegoro Semarang, pria Arab Afrika ini mantap untuk kembali lagi ke Indonesia untuk melanjutkan ke jenjang S3 Akuntansi di kampus yang sama.
Bagi Ahmed, salah satu pesona kuat yang membuat dia kembali ke Indonesia adalah keramahan orang Indonesia, senang membantu orang lain dan toleransi beragama yang bagus.
Sehingga kesempatan kedua berada di Indonesia Ahmed gunakan sebaik-baiknya untuk menambah wawasannya dan jaringan sebanyak-banyaknya. Aktif di berbagai kegiatan kemasyarakat adalah salah satu cara dia mewujudkan misinya itu.
“Sedikit berbeda dengan aktiftas pada saat saya pertama datang dan kuliah ke Semarang. Lebih sibuk di Kampus saja. Kali ini lebih aktif diluar,” ungkapnya. Diluar aktifitas kampus, kali ini Ahmed memilih untuk banyak terlibat pada kegiatan keagamaan, majelis taklim di sejumlah masjid. “Awalnya saya bergabung dengan teman-teman di Masjid Sumur Umbul kawasan Raden Patah. Dari sana saya kenal dengan Ustadz Zainul. Kemudian saya bertambah teman, di Masjid Agung,” jelas pria bermata hijau dalam bahasa Indonesia yang lancar ini
Pertama-tama Ahmed datang hanya sebagai jamaah. Mendengarkan ceramah dan menjalin hubungan
dengan jamaah lain. Namun karena pengetahuan agamanya cukup mumpuni, peran Ahmed akhirnya bertambah. Apalagi Ahmed juga memiliki keistimewaan tersendiri, dia hafal 7 juz Al Quran. “Di Libya banyak orang hafal Al Quran. Karena belajar agama tidak susah. Semua Imam di televisi punya kualitas bagus, jadi bisa buat sarana belajar juga,” tambahnya.
Sehingga di komunitas barunya, Ahmed dengan senang hati meluangkan waktu untuk diskusi. Dia sering menjadi acuan teman-temannya yang ingin bertanya tentang Al Quran dan Islam secara umum. Hal itu membuat Ahmed mendapat peran lebih untuk memberikan ceramah ke beberapa tempat.
Tugas pertama Ahmed,tak tanggung-tanggung. Pengurus majelis taklim langsung memintanya terlibat memberikan ceramah untuk para narapidana wanita di Lapas Bulu Semarang.
“Mereka ajak saya karena di penjara ada napi wanita dari Timur Tengah. Saya pasti
senang menerima ajakan itu. Apalagi memberi ceramah di penjara. Tempat orang-orang yang harus diberi support,”kata Ahmed yang puas saat disambut gembira para napi wanita.
Waktu itu dia tidak sengaja membawa identitas khusus saat mengunjungi lapas yakni memakai jalabia,
baju khas pria Timur Tengah yang berupa jubah panjang. “Para napi langsung tertawa-tawa melihat kedatangan saya dengan baju itu. Ya saya senang, dengan begitu mereka menerima saya.”
Kegiatan berlanjut di aula Masjid Lapas Wanita Semarang. Ahmed bersama rekan-rekannya
dari majelis taklim aktif memberikan ceramah kepada para napi wanita, satu kali dalam seminggu selama kurun waktu 2013.
“Saya sampaikan, khususnya waktu itu ke Mariam, napi dari Iran. Bahwa yang dia
perbuat adalah salah besar. Makanya dia berhak mendapat hukuman itu agar
menjadi pelajaran buat orang lain. Tapi usaha untuk bertobat harus terus
dilakukan,”ungkap Ahmed mengulangi isi ceramahnya di lapas.
Pria yang tinggal di Gunung Pati ini juga tergolong perhatian. Pada kehadiran berikutnya,
dia kerap membawakan oleh-oleh makanan untuk para napi. Kedekatan yang dia
ciptakan berhasil merebut simpati.
Beberapa napi asal Indonesia langsung banyak yang antri jadi ‘pasien’ Ahmed. “Ada yang
curhat tentang kesalahan masa lalu, tentang tekad berubah, motivasi hidup dan
yang lebih banyak curhat soal cinta, soal hubungan dengan pacar-pacarnya,” jelasnya terkesan.
Ahmed menerima semua yang dicurhatkan dengan sabar. “Namun tetap, saya sarankan
sesuai yang diperintahkan di Al Quran dan hadist,”jelas pria yang hafal 7 juz Al Quran ini.
Tak hanya di dalam lapas, setelah beberapa napi bebas pun masih ‘mengejar’ Ahmed untuk meneruskan
‘curhat’ nasib mereka. “Ya ada yang masih terus menghubungi saya. Tapi tetap saya berusaha wajar, tidak berlebihan menerima mereka,” jelas pria yang senang dipanggil Mas ini kalem.***
Profil WNA Cinta Indonesia, sudah diterbitkan di Harian Jateng Pos Semarang (JPNN)
Semarang, 8 Juni 2015