“Halo, perkenalkan saya Sarjoe, orang bilang Sarjoe itu artinya Sarat Kejujuran, tapi sebagian yang lain bilang Sarjoe itu Sarangane
Maju alias gingsul kakean,” kalimat jenaka ini kerap menjadi ciri khas Sarjoe dalam membuka aksi panggungnya.

Kelihaian Sarjoe dalam menampilkan aksi-aksi lucunya di panggung ini merupakan kemampuan otodidak. Betapa tidak? Karena pria berwajah mirip Deri 4 sekawan ini dulunya adalah seorang karyawan pabrik dan tidak memiliki basic sebagai komedian sama sekali.Tak kurang dari 14 tahun, Sarjoe bekerja di pabrik kayu lapis dan mebel di Kabupaten Semarang.

Tapi Sarjoe bersyukur, justru dari pabrik-lah jalan menuju panggung komedi terbuka lebar. Selama bekerja di pabrik, Sarjoe kerap mencuri perhatian rekan kerjanya dengan tingkah-tingkah lucunya. “Apa saja yang tak
omongkan, bikin konco-konco ketawa. Dari situ mereka menjuluki saya pria yang lucu,”kenang Sarjoe. 
“Ada temen yang tiba-tiba datang dan ngasih tahu kalau ada lomba lawak di PRPP Semarang, yang mengadakan stasiun TVKU Semarang,” ungkap pria kelahiran 21 Agustus 1973
ini. Setelah mendapat informasi itu, Sarjoe tak langsung tertarik.
Saya sempat ragu. Lomba lawak? Apa iya saya ini bisa masuk kategori pelawak?  Kan banyak orang bilang kalau saya ini ganteng
jadi mana bisa jadi pelawak?”tanya Sarjoe pada dirinya sendiri kala itu.  Perang batinpun terjadi. Termasuk memperdebatkan apakah dia benar-benar ganteng? Atau hanya perasaanya saja. Hahaha…
Namun kata hatinya sudah bulat. Sarjoe memutuskan untuk mencoba bertanding dalam lomba
lawak di Semarang tersebut. Dia mulai mempersiapkan diri. Baik fisik maupun
mental dan uang transport.

Begini penampilan Sarjoe kala itu yang membawakan tema ‘jauhi narkoba.’

“Perkenalkan saya Sarjoe. Asli Ambarawa. Kemarin teman
saya meninggal. Dia lalu kirim surat ke saya, bilang Ju aku sudah selamat
sampai di neraka. Tolong sampaikan teman-teman jauhi narkoba. Jangan pakai
narkoba. Tau gak? Hukumannya berat di neraka. Hufth, tau gak Ju, malaikatnya
galak-galak disini. Gak ada waktu istirahat. Ini aja aku kirim surat sambil
nyuri-nyuri waktu selama penyiksaan. Terus habis ini pelajarannya ngeri! Latihan
berenang di air mendidih. Wes to pokoke gak enak pakai narkoba,”
kata Sarjoe mengulang materi lombanya kala itu.

Materi natural yang dia buat ini ternyata nendang. Banyak penonton yang terpingkal-pingkal dibuatnya. Tak sia-sia, usaha keras Sarjoe kala itu membuahkan hasil yang memuaskan. Dia menyabet juara 3 lomba lawak pada tahun 2004 itu. Selanjutnya pada tahun 2008, dia bersama dua pelawak muda Semarang Atut dan Rahul, sepakat membentuk grup lawak PHH atau Pasukan HahaHihi. Mereka kemudian ikut Audisi Pelawak Indonesia TPI ke 4. Pada ajang tingkat nasional ini Grup PHH masuk 5 besar.

Sarjoe girang bukan kepalang. Baginya kesempatan masuk 5 besar itu sudah menjadi
pengakuan publik akan kemampuannya berkomedi. 
“Saya terus melawak dan melawak. Waktu itu diajak senior, Teguh Hoki pentas di Kendal. Tak rewangi naik motor dari Ambarawa ke Kendal dan bayaran Rp.100.000 tapi sangat puas. Rasanya seperti baru saja mengerjakan sesuatu yang penuh makna,”ungkap Sarjoe puitis.  “Dunia lawak kita  harus terus berkembang,”lanjut Sarjoe. “Karena lawak sangat bisa dijadikan sarana menyampaikan pesan dengan lebih mengena. Bagus juga buat penyampaian visi misi Pemerintah. Jadi, Pemerintah sering-seringlah ngejob pelawak daerah,”pungkas Sarjoe dalam harapannya yang tetap jenaka.(Shinta Ardhan/Jateng Pos) 

Profil ini dimuat Harian Jateng Pos 10 Februari 2015 

Categorized in:

Sosok,