Rumah paling ujung di kawasan alas karet Dusun Klopo Desa Bringin Kecamatan Beringin Kabupaten Semarang. Di rumah yang penuh dengan pohon bambu inilah dalang wayang kulit Dwi Tristi Hartini, yang terkenal dengan nama Nyi Wiwik Sabdo Laras tinggal bersama keluarganya.

Cinta Dalang

Dwi Tristi Hartini atau dalang Nyi Wiwik, mulai akrab dengan dunia wayang dan dalang sejak masih kecil. Bakat mendalangnya mengalir dari darah seni orang tuanya. Ayah Wiwik, Sutrisno Madiyocarito, adalah dalang sepuh yang terkenal di Kabupaten Semarang. Aliran darah seni ternyata lebih kuat dalam melahirkan minat Wiwik untuk mendalang. Irama gending yang sudah diakrabinya, sabetan tangan ayahnya memainkan tokoh-tokoh wayang yang menjadi pemandangannya setiap hari membuat Wiwik serius terjun ke kesenian ini. Tanpa arahan atau paksaan dari ayahnya.

Sejak umur 10 tahun Bapak akhirnya mengajari saya, memegang wayang, memainkan dialog dan ketrampilan lainnya dalam mendalang,” tutur Wiwik memulai ceritanya.

Sejak umur 10 tahun pula ia mulai diajak ayahnya “bekerja”. Wiwik sering mewakili tugas ayahnya mendalang untuk sesi pertunjukan siang hari. Pada sesi ini belum menuntut keahlian ekstra dari seorang dalang. Berbeda dengan penampilan dalang yang tampil pada malam hari. Semua konsep pertunjukan wayang kulit haruslah sempurna.

Tak Sengaja Masuk Sekolah Dalang

Bagi Wiwik kecil kala itu, kepiawaianya memainkan tokoh-tokoh pewayangan sudah di atas rata-rata anak seusianya. Bahkan sangat unik, karena baru Wiwik yang diketahui mampu menjadi dalang cilik perempuan. Namun kelebihan tersebut tidak lantas membuat Wiwik bercita-cita menjadi dalang perempuan profesional. Saat memasuki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo, pada tahun 1997 Wiwik justru memilih jurusan lain.

Awalnya saya bercita-cita jadi penari makanya saya mengambil jurusan tari. Tapi ternyata peminatnya banyak sekali. Saya beralih ke jurusan karawitan, tapi tidak boleh sama bapak saya karena nanti larinya jadi sinden. Bapak tidak suka saya jadi sinden. Akhirnya saya masuk ke jurusan pedalangan,” ujar Wiwik.

Seolah sudah menjadi jalan hidup Wiwik, di kelas dalang, dia termasuk siswa yang paling menonjol. Bakatnya yang luar biasa mendapat apresiasi dari para guru. Wiwik diakui memiliki bakat yang kuat dalam mendalang. “Ada peneliti yang mengatakan bakat kuat saya terlihat dari kemampuan saya memegang wayang dan kelincahan memainkan wayang,” kata Wiwik.

Dari kemampuan lebih ini, pundi-pundi rupiah akhirnya mengalir deras. Sejak SMA Wiwik sudah berhasil mencari uang sendiri dengan mendalang. Banyak tawaran dari teman-temannya sesama seniman wayang kulit. Mereka mengajak Wiwik kerjasama untuk pertunjukan wayang kulit berbagai lakon.

Serius Menjadi Dalang

Seusai lulus SMA, Wiwik makin mantap melangkahkan kakinya di dunia wayang kulit. Ia serius menjadi dalang. Langkah pertama yang dilakukan adalah menemui dalang-dalang senior. “Mereka sangat berarti untuk karir saya, saya bisa berkonsultasi, belajar dan bekerja pada mereka,” kata Wiwik.

Bekerja yang dimaksud adalah Wiwik menyediakan dan menawarkan diri mewakili tugas mereka sebagai dalang pocokan, dalang siang. Yakni dalang yang menjalankan pertunjukannya siang hari. Hampir 15 tahun Wiwik melakoni ini. Seperti lakon-lakon wayang yang dimainkannya, selalu ada perjuangan untuk menggapai kemenangan. Wiwik juga mengalami hal yang sama, masih harus merangkak lebih keras untuk menggapai cita-citanya. Tak semuanya berjalan mulus. Banyak pihak yang masih belum melirik kemampuannya mendalang. Dalang perempuan masih disangsikan.

Karenanya, Wiwik makin bertekad mendobrak tradisi pedalangan yang dianggap ranah kaum lelaki. Dia meningkatkan kemampuan mendalangnya dengan terus berlatih, banyak mencari kesempatan dan tidak malu untuk mencoba tampil meski tanpa bayaran.

Menang Festival Dalang

Usaha Wiwik mulai menunjukkan hasil. Nama Wiwik kian berkibar setelah berhasil meraih gelar dalang favorit pada Festival Dalang Wanita yang diselenggarakan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Komisariat Daerah (Komda) Jateng dan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng tahun 2008. Sebelum menang festival, selama ini Wiwik tampil mewakili Kotamadya Salatiga. Namun karena Wiwik merupakan warga Kabupaten Semarang, Wiwik pindah haluan. Ia fokus ke Kabupaten Semarang. Kemenangan Wiwik juga membuka perhatian Pemerintah Kabupaten Semarang. Wiwik banyak diberi kesempatan tampil. Dan didorong lebih maju lagi.

Sejajar Dengan Dalang Pria

Wiwik pun bertekad menjadi dalang yang sejajar dengan dalang pria dalam kemampuan memainkan wayang. Dia ingin setiap lakon yang dibawakan dihargai dan disegani. Dalang Wiwik juga memainkan wayang kulit secara komplit. Dengan didukung 50 pemain sekali pentas. Terdiri dari pesinden, penyanyi, dan pemain organ campursari, pelawak, pengrawit, dan peniti atau pembantu dalang. Untuk garapan ceritanya Wiwik memilih mengikuti perkembangan zaman. “Tidak selalu berpegang pada cerita klasik yang penuh pakem tapi saya memilih berimprovisasi,” ujar Wiwik tentang gaya wayangnya.

Meski dia juga bersedia memainkan cerita-cerita klasik tanpa tambahan musik apapun kecuali gamelan. Untuk mendukung pementasan wayang kulitnya, Wiwik aktif mencari bahan-bahan yang sesuai dengan perkembangan informasi. Seperti persoalan politik, kesehatan, ekonomi dan lain-lain. Dengan cara itu, pesan akan lebih beragam dan mudah dipahami masyarakat. ***

Liputan ini pernah dimuat di Majalah Kartini 2011.

Categorized in:

Feature,

Tagged in: