Di Semarang, untuk pertama kalinya terbentuk sebuah grup band anak yang beranggotakan penyandang autis. Bukan hanya di Semarang mereka menjadi yang pertama, di tingkat nasional mereka juga tercatat sebagai grup band penyandang autis pertama dan satu-satunya yang mampu bermain dengan rapi dan terarah.

Puluhan panggung pertunjukan di berbagai kota telah dijajal termasuk tampil khusus di hadapan Menteri Pendidikan.

Hebatnya lagi, tak hanya pintar bermain alat musik dan bernyanyi, personil band autis dari Semarang ini syarat akan kelebihan lainnya. Mereka lengkap disebut sebagai entertainer.

***

“Apa yang kuberikan untuk mama, Untuk mama tersayang, Tak kumiliki sesuatu berharga untuk mama tercinta”

Lagu Cinta Untuk Mama ini sukses dibawakan oleh Kharisma Riski Pradana, penyandang autis siswa SLB Negeri Semarang dalam latihan rutin yang dilakukan setiap satu minggu sekali.

Kharisma tampak bernyanyi dengan ringan. Tak ada beban pada syair dan nadanya. Juga saat membawakan lagu Lupa-Lupa Ingat milik grup band The KUBS berikut ini: “Lupa, lupa lupa lagi syairnya..”

Hapal Ratusan Lagu

Berpuluh-puluh lagu mampu Kharisma bawakan tanpa membaca teks. Selain cerdas dan aktif di sekolah, Kharisma juga memiliki prestasi yang luar biasa di bidang seni. Kharisma adalah penyandang autis SLB Negeri Semarang yang dua kali meraih penghargaan MURI sebagai penghafal 250 lagu.

Obrolanku dengan Kharisma:

Aku: Mencintaimu sampai mati, gimana lagunya?

Kharisma: Kau adalah hatiku, kau adalah belaan jiwaku, seperti itu ku mencintaimu sampai mati.

Aku: Kalau Lagu Yang, gimana?

Kharisma: Aku tak mau bicara sebelum mencerita semua.

Maka tak salah jika Ciptono, Kepala Sekolah SLB Semarang memilih Kharisma sebagai motor Band Autis.

Kata Ciptono, sejak ditemukannya dua tahun lalu, Kharisma sudah hadir dengan bakat bernyanyinya dan hafal banyak lagu, sungguh bakat yang luar biasa. Hal ini benar-benar berkah besar bagi SLBN Semarang. Cukup lama pihaknya mencari sosok seperti itu dan belum ketemu-ketemu sampai akhirnya, Kharisma datang.

Setelah Kharisma datang, (berkat laporan seorang wali murid tentang kemampuan anaknya dalam bernyanyi dan bermain alat musik) maka pencarian bakat siswa-siswa autis dimulai lagi.

(Saya tes nyanyi kok bisa nyanyi beberapa puluh lagu. Guru saya panggil, saya suruh nyari gitar, saya suruh nyanyi pakai gitar intonasinya pas, berarti dia bisa dilatih untuk alat musik yang lain. Ternyata betul dipegang oleh guru saya, Pak ini kalau untuk gitarnya tangannya belum kuat. Kalau diketukan drum, kok bisa, akhirnya jadi drummer)

Pencarian dilakukan dengan mendatangi tiap kelas dan memberikan pelajaran musik secara khusus. Satu persatu dilihat minatnya dengan didengarkan dan diajak bernyanyi bersama. Dalam sekali pencarian ini, para guru mendapatkan banyak anak autis yang berbakat musik. Munculah ide menggabungkan anak-anak autis berbakat ini menjadi grup band.

Personil Band Autis

Beranggotakan 6 penyandang autis siswa SLB Semarang. Kharisma berperan sebagai vokalis, Husain bagian drum, Faisal dan Cindy keyboard, Reno bermain bass dan Eno backing vocal.

Ciptono kepala sekolah sekaligus berperan sebagai manager band autis ini terus memacu semangat dan bakat anak-anaknya.

Ciptono: (Ngelatih mereka nggak ada 2 bulan kemudian sudah bisa dilihat hasilnya. Ada kesempatan untuk seleksi di Jakarta tampil dalam acara hari pendidikan nasional, ternyata terpilih untuk mengisi acara Diknas di Jakarta. Yang paling berharga di acara itu dilihat Bapak Menteri kita)

Melatih anak autis bermain musik, bagi Hartono guru musik di SLB Semarang, bukan hal yang sulit. Secara lahir anak-anak autis ini sudah dibekali bakat dan kemampuan kuat dan luar biasa. Cukup dengan memberi contoh, mereka akan menirukan dengan cepat. Salah satunya saat melatih Reno bermain bass.

Hartono: (Saya kasih contoh, saya main, dia liat sambil manthuk-manthuk gini. Jalan sendiri. Sementara waktu saya temukan sudah bisa pegang gitar. Dia tadi mencoba, tapi dah bunyi. Ga teratur. Irama Jawa gini, akhirnya jalan sendiri. Malah sekarang ajari Reno enak, diputarkan kaset dia jalan sendiri. Selain teknik anak-anak itu sudah punya kelebihan yang saya tinggal rangsang dengan menambah tekniknya aja. Kalau mainnya masih salah, saya betulkan)

Bukan hanya pada satu bidang saja, personil grup band autis ini juga syarat bakat-bakat lain yang makin melengkapi mereka sebagai sosok istimewa.

Kharisma, selain hafal ratusan lagu ia juga hafal banyak iklan di televisi, hafal jingle TV dan Radio di Indonesia, hafal kode telepon, plat nomor dan pandai menirukan suara tokoh-tokoh. Konsentrasi Kharisma sangat tinggi.

Kharisma hafal kode telepon.

(Malang, Aceh 0651, Bali 0361, Bandar udara Fatmawati Sukarno, AB Jogja? R Banyumas N Malang, L Surabaya.)

Juga Faisal, pemegang keyboard Band Autis, ia mampu menghafal nama kereta dan nomor lokonya.

Faisal hafal kereta api.

(Ini kereta api lewat Pramex, Pramex mana? (Faisal) CC 7062. Lokonya taruh sini, ini jurusan Jogjakarta, Pramex dari Solo ke Jogja, namanya Joglo Semar. Surabaya ada AC-nya apa? Rajawali. Rajawali lokomotifnya tanya Faisal..CC20196, Kalo kereta api Rajawali, itu tu nama Rajawali diambil dari burung perkasa. Rajawali perkasa ya, Rajawali, berhenti di stasiun antara lain Cepu Bojonegoro, melintas Babad)

Dan masih banyak lagi. Kata Hartono, semua personil band autis memiliki bakat super lainnya.

Ciptono soal bakat anak autis: “Seperti Reno ini drum pintar melody pintar main bas pintar, Eno vocal kurang bagus, tapi dia mempunyai bakat melukis manga. Kharisma multi talenta apa saja dia bisa, Cindy yang anak autis dari Jogja saya temukan pada waktu dia datang kesini dia tampil, saya tawari bergabung mau. Dia anak yang sangat berbakat dibidang apa saja termasuk nari, show nari. Juga bagus nyanyi lagu rock.”

Keberadaan band autis ini tak hanya makin melengkapi jagat hiburan namun kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus dalam bermusik itu juga memberi kita inspirasi bahwa kekurangan bukan kendala untuk berkarya. Berlatih juga merupakan kunci penting kesuksesan musisi. Bakat saja tidaklah cukup. Masih diperlukan usaha keras untuk mencapai level penampil profesional seperti mereka.

Liputan ini pernah dimuat di Website Radio CVC Queensland, Australia, 2007.

Categorized in:

Feature,