Mata Ina berkaca-kaca. Genangan air bening tak kuasa ia tahan dari sudut matanya. “Ini jalan Tuhan, aku bersyukur masih bisa membuat Ibuku bangga,” ujar Ina pelan. Ina, Ibu muda yang terpaksa mendekam dengan hukuman kurungan karena jeratan narkoba. Dia diajak sang suami menjual dan mengedarkan narkoba. Akibatnya mereka harus sama-sama berada di dalam jeruji besi.
Dalam Kontes Komedian Perempuan di Lapas 30 April lalu, Ina bersama kelompoknya teman satu sel berhasil menjadi Juara I. “Temanya tepat, materi kuat dan dialog semua pemain imbang, grup Ike layak jadi pemenang,” ujar Teguh Hoki, Komedian Senior Semarang, jebolan API TPI I, Ketua Dewan Juri.
Saat itu Ina membawakan tema Aladin dan Jasmin. Dalam dialog lawakannya, Ina cs banyak mengkritisi pasal-pasal, kesulitan mereka mengurus banyak hal di lapas dan berbagai jeritan suara hati napi. Seperti inilah kutipan dialog lawakan mereka saat itu :
“Kita terdampar dimana ini? Banyak sekali binatang disini,” Ina mengawali dialognya sambil duduk diatas karpet bersama Bibi yang berperan sebagai Aladin.
“Hush bukan binatang, itu orang..” timpal Bibi.
“Kita terdampar di kerjaan sepertinya, kerajaan Bulu, yang banyak tata tertibnya,” ucap Ina disambut tepuk tangan napi lainnya.
“Ngopo kok disebut Bulu? Karena neng kene akeh Bulune, Lha wes pisau cukur gak oleh masuk seh,” tambah Ina.
“Ojo ngomong bahasa Jawa terus iki ono wong pondok bambu barang,” ajak Bibi, dalam dialognya.
“Oke Din Aladin, ayo cepet diielus-elus….dibersihin tuh tremos…..” balas Ina. (Langsung muncul tante jin)
“Hahahaha…..” tawa Jin, napi perempuan berkostum hitam-hitam.
“Aduh siapa itu?” tanya Ina dan Bibi sok bingung.
“Gak usah takut, anak-anak manusia. Tante jin ini baik. Jangan begitu anak manusia.”
“Tante kok muncul dari mana? tante di dalam teko dah berapa lama?”
“Tante dalam teko 3 tahun, tante kan kena 11 tahun 7 bln,” jawab Tante Jin menyamakan teko sebagai hukuman penjara.
“Aku aja 2,4 tahun udah eneg,” balas Ina.
“Sebagai tanda terima kasih, akan aku kabulkan satu permintaan,” janji Tante Jin.
“Kok Cuma 1…1,2 dong, eh ¼… 2/3 baru naek ke dirjen,” tawar mereka kocak. Disambut tawa lepas para napi di lantai penonton.
“Tante ga lama-lama waktunya. Lama nggak pegang hp, sudah lama gak gituan…hihii,” curhat tante jin lucu.
“Eh Jangan sebut-sebut hp, ada bu kalapas. Bu Kalapas pimpinan Kerajaan Bulu yang banyak tata tertib. Eh tahu gak sini dinamakan Bulu? Karena disini banyak bulu sebab pisau cukur gak boleh masuk,” celoteh Ina lagi disambut gelak tawa teman-temannya yang penuh sesak di aula lapas wanita Semarang.
“Kami minta TV!” pinta Ina dan Bibi kemudian.
“Haduh TV, listrik aja njrat njort…kipas angin aja gaa bisa masuk. Mosok mau minta TV,” balas Tante Jin sambil mengkritisi keadaan di lapas.
“Ya udah deh tahu bakso. Jarang makan tahu bakso disini,” timpal Ina.
“Halah, makan aja seadanya di lapas sini, nrimo gitu loh,” protes Tante Jin.
“Ya gini aja, minta PP 100 gimana?” sontak saja ketika Ina dan Bibi menyebut PP ini semua napi teriak kegirangan antara geli dan puas. Seolah suara mereka terwakili oleh tim komedian dari kamar 1 ini.
PP 100 diharapkan menghapus PP 99 yang bisa meringankan hukuman napi. Lewat PP 100, napi yang memenuhi syarat tertentu bisa bebas setelah menjalani 2/3 masa hukuman. Adegan lawakan Ike Cs ini ditutup dengan janji Tante Jin akan meeting, membahas penghapusan PP 99.
“In kamu tu merasa lucu gak sih?” tanyaku disela dia masih terharu biru dengan kemenangan kelompoknya dan dirinya. Karena dia yang menjadi motor kelompok sel 1.
“Banyak yang bilang aku lucu. Teman-temanku, di kamar juga sering bilang gitu, jadilah aku suka menghibur mereka.Tiap habis Magrib aku ngamen, ya ntar dapat kopi atau dapat apa gitulah. Yang paling pertama Ibuku,sudah lama Ibu bilang kalau aku punya bakat. Ibu selalu mendukung aku. Meski anak perempuannya kini di penjara, Ibu tak pernah habis menerima keadaan dan selalu mendukungku,” curhatnya haru. “Selama diluar aku belum pernah mendapat kesempatan seperti ini, kok aku dapat begini pas di penjara, jadi inilah jalan Tuhan aku bisa meraih prestasi meski aku ada disini” ujarnya bangga.
Dalam penilaian kami, Ina tak hanya sekali ini saja menjadi sosok yang menonjol bakat humornya. Saat kami bermain drama humor Cinderela, Ina sudah tercatat sebagai pemain sangat berbakat. Ia berhasil menciptakan karakter peri bisu yang kocak dan lincah. “Ide dia banyak, lengkaplah Ina itu, pinter ngemas materi, kostum dan improve-nya bagus,” kata Agung Siomay, komika yang menjadi juri kedua.
Dalam kontes komedian perempuan di lapas yang digelar Alwari (Aliansi Wartawan Radio Indonesia) Semarang, bersama Komunitas Insan lucu-lucu Semarang dan Yayasan Prasasti Perdamaian serta Hotel Dafam Semarang, Ina meraih gelar 2 kejuaraan sekaligus. Pertama sebagai Juara I Grup Lawak terbaik dan kedua, Ina berhasil mendapat predikat komedian tercerdas.
“Kami puas, even kontes lawak ini bisa kami jadikan untuk menyuarakan apa yang terpendam di hati, kita disini sakit, sakitt banget, ya itu yang kita keluarin uneg-uneg dari hati, denga cara itu pesannya sampai dengan aman pakai komedi. Pingin ngungkapin yang ada di hati, kita ga bisa ini itu lah, kita pengen ngomong. Tapi gak ada kesempatan ngomong, baru sekarang ini bisa,” ungkap Bibi dengan mata berkaca-kaca juga.
“Ini lomba yang belum pernah terjadi disini. Kita disini nggak ada hiburan, kegiatan reguler saja. Jadi seru ikut kompetisi ini, senang juga bisa lihat temen-temen terhibur sama akting lawak kami,” kata Ida, napi juara 2 kontes lawak ini. Juara 2 membawakan tema tentang kehidupan sehari-hari napi dibalut musik humor yang rapi. Kemampuan Ida nyinden sangat memakau dengan parodi lagu-lagu jawa dan dangdut. Bagi Ida yang ‘semasa bebasnya dulu’ adalah artis dangdut terkenal, kontes lawak seperti ini bagaikan ajang nostalgia ‘ekpresi tampil kembali di panggung’. Kerinduan manggungnya terobati, karena dalam materi lawaknya Ida totalitas sekali, ngelucu sambil bernyanyi dangdut sekaligus nyinden.

Suara puas lainnya datang dari Ragil, napi kasus 280 ini sempat ‘ditakuti’ peserta kontes lawak lainnnya. “Ye kalo Ragil dah ikut, gak deh, gak bakalan menang juga kita,” ujar kontestan narapidana lainnya. Dan kenyataannya memang benar, Ragil termasuk susah dikalahkan. Penadah hasil curanmor yang pernah ngekru bareng orang-orang film dan sinetron di Jakarta ini memang komplit bakatnya. Ngelawak, Ragil sangat lucu. Tak salah, juri menetapkan dia sebagai kontestan dengan gelar ‘Komedian Terlucu’. Di bidang musik, Ragil pinter ngebas dan nge rap. Tidak ketinggalan, badan gembilnya ternyata amat lentur mengikuti irama musik apapun. Ragil jago breakdance dan dance-dance lainnya. “Seneng sih Kak dapetin ini, jadi inget kerjaan di Jakarta waktu di film ama sinetron,” ucap Ragil bangga.
Perempuan dengan paras mirip Mastur adik Mandra ini sebentar lagi menghirup udara bebas. Ragil dan kelompoknya berhasil menyabet juara 3, dengan membawa tema banci di penjara. Ragil tampil lypsinc. Bawa lagu milik Armada Band. Gestur kocaknya, mampu menggemparkan aula lapas siang itu. Kalau boleh dicatat, Ragillah yang paling membuat suasana meledak! Kompor gas pol Gil 😉
Bu Wagub aja sampai ikut ngefans sama Ragil
Kami semua puas dan bangga dengan event spektakuler ini. Sejarah dan kenangan indah terukir dari kegiatan melucu bersama di lapas.
Rustriningsih saat hadir dalam kontes komedian napi penjara
Wakil Gubernur Rustriningsih mengatakan selama 15 tahun menjadi pejabat di Kabupaten maupun Provinsi, baru pertama kali ini menemui kontes lawak di lapas, lapas wanita lagi. “Kalau orang diluar suruh ngelawak, akan mudah, beban mereka tak seberat dan sepenat penghuni-penghuni lapas. Nah ini, nyuruh orang-orang di lapas, ngelawak? Selamat buat penyelenggara,” ujar Bu Rustri tulus. “Acaranya bagus sekali, membuat semua orang tertawa bahagia melupakan kesedihan sejenak, acaranya dikemas begitu bagus karena ada partisipasi mereka sendiri, menghibur teman-temannya,” tambah Bu Rustri, yang Agustus nanti habis masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Dari sisi bakat napi, ia menyebut mereka semua luar biasa. “Pada kondisi di dalam LP mereka bisa meng-create, bisa mengeksplor diri, luar biasa buat saya.” Harapannya pemerintah bisa berada di depan untuk mendukung kegiatan serupa. Bu Amalia Abidin, Kepala Kanwil Depkumham Jawa Tengah juga berharap kegiatan ini bisa digelar di lapas-lapas lain. “Ini acara bagus untuk kampanye damai ke lapas-lapas melalui humor,” tegasnya.



