Semangatnya menjaga buah lokal sekaligus merawatnya secara alami membuat Ragil Giali atau Mbah Ragil (64) petani durian asal Dusun Bulusari-Rejosari Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang menuai banyak berkah. Petani paruh baya yang idealis ini sekarang bisa tersenyum bangga ketika hasil kerja kerasnya melestarikan buah lokal memuaskan para pecinta duren di berbagai kota di Indonesia. Durian lokal Sitoro (atau Asli Toro, merujuk pada induknya durian Toro) miliknya laku keras ke beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Tegal dan lainnya melalui pemasaran secara online.

“Pecinta durian yang di luar Jawa Tengah kami kirim secara paket. Namun bagi yang di wilayah Jateng mereka lebih suka datang langsung ke kebun kami,” jelas suami dari Dzuriyatul Yatimah dan Ayah dari Gigih Hindarko dan Shinta Ardhany ini.

Lahan durian milik Mbah Ragil berada di atas tanah seluas hampir 1 hektar. Hingga kini, sudah ada 80 pohon yang produktif. Dari jumlah itu, rata-rata umur pohon berkisar 20 sampai 30 tahun. Bahkan ada pohon durian yang sudah berumur 100 tahun, atau seukuran dekapan dua orang dewasa. Pohon itu warisan dari sang kakek buyut. “Indukan kami adalah durian asal Toro, orang biasa menyebut durian wali,” sambungnya. Hebatnya lagi, semua pohon durian itu adalah bibit lokal yang tumbuh dari biji. Tidak ada rekayasa genetik sehingga kelokalan benar-benar terjaga. Dalam sekali panen tiap pohon bisa berbuah antara 100 sampai 300 buah. “Tergantung cuaca, musim dan perawatannya,” jelas Mbah Ragil. Meski lokal, buah yang dihasilkan pun tetap mempesona. Dari 80 pohon yang ada menghasilkan beragam bentuk dan citarasa. Dari ukuran berat 3 kilogram sampai 8 kilogram.

“Saya tidak ingin durian lokal bernasib sama dengan buah-buah lokal lain seperti kelengkeng, pepaya, pisang dan lainnya, yang lenyap dari tanah kita sendiri karena serbuan buah impor yang cukup deras,” ungkap Mbah Ragil akan motivasinya melestarikan buah lokal.

Untuk menjaga citarasa buah duriannya, ia menerapkan perawatan lahan dan buah secara alami atau organik. “Kami tidak menggunakan pupuk kimia ataupun pupuk kandang pada lahan durian ini. Lebih mengoptimalkan pupuk yang berasal dari rerumputan di area sekitar. Artinya benar-benar bahan yang ada di kebun kami,” jelas kakek tiga cucu ini lengkap. Mbah Ragil juga menggunakan rendaman air tembakau untuk melindungi buah dari serangan hama. “Selain organik, duriannya juga masak pohon, jadi kami benar-benar merasakan rasa durian yang sebenarnya. Manis, creamy ada paitnya sedikit, rasanya kuat dan lekat,” kata Munji, salah satu pembeli asal Semarang yang berulang kali datang ke kebun durian Mbah Ragil.

Peminat durian Mbah Ragil cukup beragam dari kalangan pejabat, seniman, aktivis LSM, wartawan, sampai pecinta durian maniak yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah bahkan luar provinsi.

Berkah lain, semangat Mbah Ragil dalam mempertahankan buah lokal dan perawatan secara alami ini juga menarik minat kalangan akademisi untuk melihat langsung dan meneliti kebun duriannya. Dr. Ir Muhammad Reza Tirtawinata MS, Ketua Yayasan Durian Nusantara yang juga doktor pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) datang langsung ke kebun durian Mbah Ragil. “Saya berminat, begitu mendengar info buah durian lokal dirawat secara organik, ini unik dan langka,” jelas peneliti yang sudah menjelajah seluruh nusantara ini. “Dengan ketinggian lahan 700 di atas permukaan laut, buah durian bisa tumbuh dengan rasa manis seperti ini sudah cukup baik. Kondisi pohon dan lahan cukup sehat, perlu terus dijaga dan ditingkatkan,” ungkap doktor yang siap untuk mendukung Mbah Ragil dan petani-petani lain dalam melestarikan durian lokal.

Doktor Reza juga siap membantu peralatan dan memberikan teknik-teknik perawatan durian organik secara gratis. Kini semangat Mbah Ragil makin menggelora karena kuatnya dukungan dan respon banyak pihak akan perjuangannya melestarikan durian lokal.

***

Ambarawa, April 2015