Suara gending mengalun ditengah kursi penonton yang kosong. Alunan gamelan berhenti sejenak, hening lalu mengalun lagi memenuhi segenap ruangan Gedung Ki Narto Sabdo di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Totok Pamungkas (52) atau yang lebih dikenal dengan nama Totok Bagong, pelawak yang sekaligus tokoh seni tradisional Semarang malam itu terlihat santai mengawasi jalanya latihan kesenian Throtok yang akan tampil ke tingkat nasional. “Grup Throtok kami pernah juara tampil di Taman Mini dan Gedung Kesenian Jakarta. Keduanya juara I bertanding dengan seni tradisional lain dari seluruh Indonesia,” tambahnya.

Dunia seni tradisional dan Totok Bagong seperti dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pria kelahiran Semarang, 20 Oktober 1963 ini sudah menggeluti seni sejak kecil. Darah seni mengalir deras dari kedua orang tuanya Ruswoyo dan Sugiarti, keduanya adalah penari klasik yang hebat pada jamannya. Selain menari, Totok juga jago melawak dan berakting.

Tak heran jika pada usia belasan tahun dia sudah berani terjun berkompetisi pada ajang lomba lawak Radio Radiks 99 Semarang pada tahun 1979. Totok yang masih SMP kala itu meraih dua gelar kejuaraan. Pertama juara III untuk kategori grup dan juara utama untuk kategori aktor terbaik.

Pasca kemenangan pada ajang lawak itu Totok melanjutkan kariernya di dunia seni komersil. “Tapi tidak langsung melawak. Di awal saya memutuskan bergabung dengan seni tradisional, grup wayang orang dan kethoprak. Ya, begitulah awalnya waktu masih ngganteng saya kerap didapuk jadi Arjuna, tapi sekarang fokus peran Punokawan sebagai Bagong,” terangnya.

“Dasar saya memang seni tradisional tapi tak jauh beda materi bisa terpakai juga ke lawak modern,” ujar pelawak yang akhirnya lebih sering menjadi sutradara ini. Berikut contoh naskah yang dibuat Totok tentang cek cok rumah tangga.

Dikisahkan ada keluarga harmonis. Suami isteri hidup rukun. Kehangatan mereka membuat iri tetangga lain, akhirnya tetangga membuat ulah untuk menghancurkan rumah tangga mereka.

Tarmo: Yu Sri tak kandani yo, aku wingi weruh Paimo mlaku karo wong wedok lungo pasar wong loro

Sri: Mosok to? Rak mungkin ah. Paimo ki setia kok. (Dihari lain, Tarmo mendatangi Paimo)

Tarmo: Mo ngerti rak, aku wingi weroh bojomu turu karo Parman.

Paimo: Rak mungkin ah, bojoku ki wong paling setia kok.

(Lalu suami istri tadi bertemu)

Sri: Kang sampean kok mengkhianatiku to, sopo wong wedok seng lungo karo awakmu neng pasar?

Paimo: Kowe yo melukaiku, sopo wong lanang sing turu karo kowe, jare jenenge Parman. (Keduanya sama-sama mengelak)

Sri – Paimo: Lha terus sopo sumbere??? Tarmo…!

(Tarmo diundang ke rumah mereka)

Tarmo: Lo ojo nesu sik to. Wingi kan kowe pancen lungo pasar karo wong wedok to? Pas kowe narik becak kae. La kae wong wedok tenan pora? Lak yo wong wedok asli to? Aku ra salah ngomong to? Terus kowe Yu Sri, wingi pas aku teko omahmu awan-awan lak yo kowe pancen lagi turu karo wedakan parem to, lak yo kowe turu karo pareman to jenenge? Opo aku salah? Ora to..?

Materi humor bagi Totok sangat mudah didapatkan dari kejadian sehari-hari. Dia beruntung sudah terlibat dalam pembuatan naskah sejak dulu sehingga perbendaharaan naskah sudah menumpuk di otaknya.

Ada tips sukses dalam membuat materi versi Totok. Tips yang pertama adalah berpegang pada improvisasi, kedua intensitas (jam terbang) dan ketiga mengolah massa.

“Misal sedang di acara Walikota. Pak Wali ini orang yang terbuka senang diajak sharing, demokratis. Beliau sangat gampang diajak tukar pendapat tapi sangat susah dan pasti tidak mau kalau diajak tukar pendapatan,” papar Totok mencontohkan pengolahan materi.

Totok sangat bangga karena kiprahnya di panggung komedi daerah ini terdengar hingga ke tingkat nasional. Akhirnya pada tahun 2006, dia diminta membuat naskah tayangan humor Limbuk Cangik di Indosiar.

Pria murah senyum yang juga adik ipar pelawak legendaris Indonesia Basuki, juga pernah terlibat pembuatan naskah Jampi Stress, program komedi andalan Basuki di salah satu TV nasional. Bahkan hingga sekarang, beberapa seniman Semarang yang sudah berkiprah di TV nasional kerap meminta saran dan naskah cerita pada Totok. “Seni itu tidak usah diirit-irit. Makin kita bagikan makin banyak. Ide juga dimana-mana,” papar pelawak yang mengidolakan Kirun dan Bagio ini tegas.

(Shinta Ardhan/Jateng Pos)

***

Categorized in:

Sosok,